Senin, 01 Februari 2010

Queen Soendoek 48

Di luar ibukota, para bangsawan dan ribuan pasukan menyatakan sumpah setia mereka pada Chunchu (Yoo Seung-ho), yang langsung memerintahkan pasukan untuk masuk ke Seorabol dan menyelamatkan Shilla yang di ambang kehancuran.

Di atas podium, wajah Mishil (Go Hyeon-jeong) langsung berubah begitu mendengar telah terjadi pembelotan besar-besaran. Bahkan, para hwarang yang telah berkumpul di gerbang ikut beralih setelah melihat Munno (yang sebenarnya adalah Bidam (Kim Nam-gil) yang menyamar) mendukung perjuangan Yushin (Uhm Tae-woong).

Meski posisinya semakin tidak menguntungkan, Mishil masih bergeming. Semua berubah ketika sebuah layangan menebarkan kertas yang menyebut bahwa Raja Jinpyeong (Jo Min-ki) telah diselamatkan. Dengan geram, Mishil mengambil busur dan anak panah serta mengarahkannya ke arah Putri Deokman (Lee Yo-won). Bukannya takut, sang putri malah berdiri sambil merentangkan kedua tangannya.

Nasib rupanya belum menghendaki Putri Deokman mati. Meski sempat ambruk, gadis itu bangkit lagi karena anak panah yang dilepas Mishil ternyata mengenai belati peninggalan Raja Jinheung yang selalu disimpan di saku baju sang putri.

Sadar kalau dirinya sudah kalah, Mishil langsung mengikuti permintaan Seolwon (Jun Noh-min) untuk kabur sambil memerintahkan para prajurit untuk membunuh semua tawanan. Untungnya sebelum terjadi pembantaian, Bidam dan pasukannya muncul sebagai penyelamat. Saat masuk ke tempat persembunyian, Mishil terkejut saat tahu surat rahasia yang disimpanya selama ini sudah tidak ada di tempat.

Dalam keadaan terjebak, Mishil memerintahkan untuk menembus gerbang utama dengan seluruh kekuatan. Seolwon langsung mengangguk, dan pidatonya mampu membakar seluruh prajurit yang semuanya masih setia pada Mishil. Strategi tersebut mengejutkan Putri Deokman, yang sama sekali tidak menyangka Mishil bakal berbuat senekat itu.

Begitu lolos, Mishil sadar bahwa keuntungan ada dipihaknya, ia memutuskan untuk mengungsi ke benteng Daeya yang terkenal memiliki pertahanan kokoh dan sulit ditembus. Hal serupa juga disadari Putri Deokman, yang sadar bahwa bila perseteruannya dengan Mishil semakin berlarut-larut, maka perang saudara tidak bisa dihindari.

Untuk mengembalikan kekuasaan, Putri Deokman mulai menyingkirkan para bangsawan pendukung Mishil yang ada di pos-pos penting. Sementara itu, Yeomjong berusaha mengingatkan Bidam kalau dirinya bakal tersingkir dari percaturan politik bila tidak berbuat apa-apa. Pasalnya, pria itu tidak memiliki latar belakang yang jelas.

Membersihkan kabinet, khususnya di bagian militer, ternyata tidak semudah yang dikira. Karena begitu lamanya kubu Mishil berkuasa, Putri Deokman mendapati bahwa banyak hal yang tidak dilaporkan dalam pembukuan. Yang lebih mengejutkan, Mishil, yang berada di tempat yang jauh, mampu menggunakan pengaruhnya untuk membelokkan kiriman busur panah dari Jepang sehingga masuk ke kantong kubunya.

Masalah tak berhenti muncul, seorang utusan tertangkap tengah melapor ke Mishil mengenai kebakaran besar yang terjadi di propinsi Gwangmun yang semakin menegaskan kuatnya pengaruh sang pemegang segel kerajaan di Shilla. Untuk mengatasinya, Putri Deokman mengambil langkah tegas : siapapun yang tidak melaporkan perkembangan daerah kekuasaan Shilla padanya bakal dieksekusi.

Untuk semakin mengisolasi pengaruh Mishil, Putri Deokman tiba-tiba teringat dengan surat rahasia tentang Mishil yang pernah diberikan mendiang Sohwa. Meminta Bidam untuk mengambil sendiri surat yang disembunyikan itu, Putri Deokman menyebut bakal mempercayakan posisi penting pada murid Munno itu. Mendapat kepercayaan, wajah Bidam langsung berseri-seri.

Di saat Putri Deokman berdebar-debar menanti datangnya surat rahasia, Bidam yang telah sampai di lokasi sangat terkejut saat tahu isi surat yang selama ini disimpan Mishil. Dalam keadaan terpukul, Bidam mengambil keputusan nekat.(indosiar.com/mdL)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar