Kamis, 04 Februari 2010

A love to Kill (15)


Demi mencegah Eun-seok melakukan tindakan nekat, keluarga gadis itu menguncinya di kamar. Belakangan, Joon-seong masuk dan memberitahu bahwa semua yang dilakukan hanya akan menghancurkan karir yang telah dibangun, namun Eun-seok ternyata tidak perduli.

Ia langsung menuju kantor polisi, dan dihadapan para petugas, mengatakan bahwa apa yang dilakukan Bok-gu sama sekali tidak ada unsur paksaan. Keruan saja ketika berjalan keluar, mereka dikerubungi wartawan tepat pada saat Eun-seok memeluk pria itu.

Eun-seok nampaknya benar-benar dimabuk cinta, ia sama sekali tidak perduli bermesraan dengan Bok-gu meski berada di tempat umum. Di saat yang sama, citra gadis itu yang membatalkan pertunangannya di tengah jalan membuat karir Eun-seok terancam tamat.

Ketika sedang berada didalam mobil, mendadak Bok-gu meminta Eun-seok menceritakan tentang kekasihnya yang terdahulu. Sikap gadis itu langsung berubah, demikian pula sang pengawal yang mendadak menjadi dingin dan mengatakan bahwa ia merasa bosan. Keruan saja, Eun-seok meneteskan air mata dan patah hati melihat Bok-gu melangkah pergi.

Setelah melampiaskan rasa bersalahnya dengan minum-minum, Bok-gu mendatangi kamar Min-joo dan mengobrol dengan sang kakak. Meski awalnya menyatakan niat membalas dendam akhirnya kesampaian, Bok-gu tidak bisa menahan air matanya dan menyesalkan mengapa Min-joo menyukai wanita sebaik Eun-seok.

Eun-sook sendiri memutuskan untuk tidur sejenak didalam mobil sambil berharap apa yang terjadi dengannya hanyalah mimpi. Saat bangun, ia memutuskan untuk menyusul Bok-gu. Berkat informasi yang didapat, ia menyusul pria itu ke rumah sakit sehingga tabir kebenaran mulai terungkap.

Tidak ingin dirinya disakiti lagi, Da-jeong menelepon Joon-seong dan meminta supaya direktur muda itu berusaha dengan segala cara untuk menghalangi percintaan Bok-gu dan Eun-seok. Tidak hanya itu, ia juga mengungkap rahasia Bok-gu yang sebenarnya.(mdL)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar