Senin, 01 Februari 2010

Queen Soendoek 22

Berbeda dengan Yushin (Uhm Tae-woong) yang hanya bersenjatakan tongkat kayu, Bidam (Kim Nam-gil) dengan pedangnya tidak segan-segan membunuh lawan-lawannya. Namun yang paling membuat Seolwon (Jun Noh-min) kaget, Bidam memiliki jurus yang sama persis dengan Munno (Jung Ho-bin).

Meremehkan Yushin yang saat remaja sering dikalahkan, Seokpum (Hong Kyung-in) dan belakangan Bojong (Baek Do-bin) ternyata mampu dikalahkan oleh sang yunior. Begitu ada kesempaan, Bidam langsung mengajak Yushin dan Deokman (Lee Yo-won) untuk melarikan diri.

Berhasil lolos setelah melompat ke dalam air terjun, Yushin sangat kecewa saat Bidam memberitahunya kalau Deokman berniat bunuh diri. Namun saat ditegur, Deokman dengan marah menyebut sudah tidak ada lagi jalan keluar dari masalah yang dihadapinya. Siapa sangka, Yushin menyebut bahwa ia siap pergi sejauh mungkin dari Shilla dan meninggalkan semuanya demi Deokman.

Ditemani oleh Alcheon (Lee Seung-hyo), Putri Cheonmyeong (Park Ye-jin) menyusul Kim Seohyeon (Ju Sung-mo) ke desa Gunmak. Begitu bertemu muka, ia langsung bisa menebak kalau ayah Yushin itu sudah bekerja sama dengan Eule (Shin Goo). Dengan marah, ia meminta Kim Seohyeon mengubah perintahnya supaya Deokman bisa ditemukan dengan selamat.

Gagalnya penangkapan Deokman membuat kubu Mishil (Go Hyeon-jeong) berang, namun wanita itu tetap ngotot supaya putri bungsu Raja Jinpyeong (Jo Min-ki) itu ditangkap dalam keadaan hidup. Oleh Pendeta Seori (Song Ok-sook), Mishil kembali diingatkan bahwa ramalan bintang menunjukkan bahwa kehadiran dua putri kembar hanya akan membuatnya berada dalam kesulitan.

Untuk kesekian kalinya peringatan itu diabaikan oleh Mishil, sehingga Seori memutuskan untuk bicara dengan Misaeng (Jung Wong-in). Begitu mendengar kalau kehadiran putri kembar bakal mengancam Mishil, Misaeng mengutus salah seorang putranya Daenambo (Ryu Sang-wook) untuk menghabisi Deokman.

Saat tengah melacak keberadaan Deokman, secara tidak sengaja Alcheon melihat gerak-gerik seorang wanita yang mencurigakan. Saat diikuti, wanita tersebut secara tidak sengaja mempertemukannya dengan Bidam dan salah seorang penduduk desa.

Begitu ditodong pedang, Bidam langsung teringat oleh peringatan Yushin tentang warna ikat kepala hwarang yang harus dihindari. Mendengar Alcheon menyebut dirinya rekan Yushin, ditambah kemunculan Goksaheun (Jun Young-bin) dan Daepung (Park Young-seo) yang memakai kostum klan Kembang Naga, ia memutuskan membawa mereka ke tempat persembunyian.

Siapa sangka di tengah jalan Bidam berubah pikiran, dengan satu gerakan cepat ia merebut dan menghunuskan pedang ke arah Goksaheun dan Daepung. Suara adu mulut antara Bidam dan Putri Cheonmyeong terdengar oleh Deokman dan Yushin, yang langsung keluar dari persembunyiannya.

Di gubuk terpencil, Putri Cheonmyeong dengan sedih meminta Deokman untuk pergi sejauh mungkin dari Seorabol sambil minta maaf karena dirinya dan keluarga raja tidak mampu melindungi gadis malang itu. Sebelum pergi, Deokman diminta untuk mengganti pakaiannya dengan gaun yang sama persis dengan yang dikenakan Putri Cheonmyeong.

Begitu Deokman muncul, Putri Cheonmyeong langsung meneteskan air mata terharu. Sambil menyisir rambut Deokman, sang putri berpesan supaya adiknya bisa hidup bahagia bersama Yushin. Deokman hanya tersenyum tipis saat Putri Cheonmyeong meminta dirinya memanggil kakak, dan menyebut bakal menggunakan panggilan itu bila keduanya bertemu lagi.

Sementara itu, Goksaheun dan Daepung terus mengamati gerak-gerik pasukan Seolwon dan melaporkannya pada Alcheon. Keduanya tidak sadar kalau mereka diikuti oleh Daenambo, yang tanpa sepengetahuan atasannya mengemban misi rahasia dari Misaeng. Tidak ada yang sadar bahwa aksinya bakal mengubah sejarah.(indosiar.com/mdL)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar